Liberalisasi Agama

Liberalisasi Agama

Membaca atau mendengar kata liberal dan disandingkan dengan agama, maka kita akan dibawa kepada isu kerusakan agama karena terjadi liberalisasi atau pembebasan terhadap hal yang dilarang dalam agama.

Traumatis kata liberal bagi umat islam dibawa oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) yang berhasil membawa pengaruh besar terhadap pemahaman liberalisme dalam agama, bagi mereka membawa nilai-nilai islam yang progresif dan moderat. Walau dalam perkembangannya beberapa tokoh JIL dinilai buruk merusak akidah dan akhlak umat bagi kalangan yang anti terhadap JIL. Mereka menamakan dirinya sebagai gerakan Indonesia tanpa JIL. Dari sini penilaian buruk seseorang yang nyeleneh, bebas yang kebablasan, dan terlalu menggunakan logika filsafat biasanya mendapatkan label Islam liberal atau yang sejenisnya, Islam Nusantara.

Nabi Muhammad datang meliberalisasi kondisi Arab jahiliah dengan akhlakul karimahnya (suri tauladan), sehingga agama islam hadir dengan semangat liberalisasi untuk membangun masyarakat Madani. Tanpa semangat liberalisasi, Arab tidak bisa lepas dari jajahan jahiliah. Kata liberal selama berada dalam konteks yang tepat, tidaklah seburuk seperti yang anda pikirkan. Liberal itu membebaskan akal pikiran kita untuk didayagunakan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan dan membangun struktur logika berpikir yang komperhensif.

Jika kita percaya bahwa Tuhan yang menciptakan akal, maka kita tidak harus takut mengenai keliaran akal dalam mengkritisi segala hal yang dia nilai. Akal menalar Tuhan, tentu akal mempunyai caranya sendiri untuk bisa menjangkaunya. Jangkauan yang paling jauh, akal mengatakan tidak ada Tuhan, akal yang paling dekat dengan keimanan menyatakan Tuhan itu ada, wujudnya satu dengan banyak agama yang menafsirkan berbeda-beda nama.

Liberalisasi agama diperlukan ketika agama berada pada kondisi yang memprihatinkan, agama yang awalnya berfungsi agar manusia dapat lebih beradab, mempunyai tata krama, lambat laun berubah menjadi kepentingan. Agama menjadi legitimasi untuk melegalkan kepentingan dirinya sendiri. Agama dijadikan alasan untuk bom bunuh diri, untuk melawan agama minoritas, untuk perang satu sama lain, diskriminasi agama lain, label kafir yang derajatnya sangat hina, radikalisme yang membahayakan negara.

Liberalisasi agama datang untuk membebaskan manusia dalam beragama. Agama bukan lembaga, namun ajaran yang semua orang dapat mempelajarinya. Oleh karena agama bukan lembaga, tiap orang dapat menghayati tiap ajaran agama manapun. Karena intinya semua ajaran agama mengajarkan kebaikan.

Jika ada yang mengatakan, semua agama baik namun tidak benar, hanya Islam adalah agama satu satunya yang diridhoi oleh Allah. Saya setuju, wilayah akidah memang mengharuskan penganutnya setia dengan Islam saja. Yang penting diketahui adalah pemahaman, semua agama baik dan benar menurut keyakinannya masing-masing. Dari sini kita dapat bijak dan bajik dalam menghormati perbedaan, memahami konteks pluralitas atau keberagaman sebagai semangat persatuan Indonesia dan dalam bahasa agama disebutkan wihdatul ummah atau kesatuan ummat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *