Manajemen Konflik,

Manajemen Konflik,

Manajemen Konflik,
Ketika Sang Nabi Mendiamkan Kaab bin Malik

Udah ada yang pernah baca siroh nabi yang mendiamkan Kaab bin Malik? Kalau belum kisah singkatnya begini, ketika Kaab bin Malik tidak mengikuti perang tabuk yang diperintahkan oleh Rasulullah karena alasan yang tidak syar’i, maka cara untuk mendidik Kaab bin Malik dengan mendiamkannya.

Menyoal mendiamkan ini, banyak orang yang gagal paham. Bahwa mendiamkan adalah salah satu dari banyak cara dalam manajemen konflik. Ketika cara ishlah atau perbaikan melalui jalur pertemuan atau silaturahmi menemui jalan buntu, di mana pertemuan yang ada bukan membahas solusi ke depan, malah memperkeruh dengan sederetan masalah. Dari sini, mendiamkan adalah cara yang terbaik untuk mentarbiyah (mendidik) orang lain agar belajar dari kesalahannya dan tidak mempermalukannya ketika kita harus angkat bicara untuk menjelaskan.

Gejolak dalam mendiamkan memang beresiko tinggi. Dapat memperluas konflik yang ada, karena tidak ada duduk bersama, tidak ada tabayun atau klarifikasi, tidak ada berpelukan dalam kondisi konflik yang pelik. Namun kembali lagi, sebagai pilihan jalan untuk mendidik seseorang yang sudah keterlaluan, ini pilihan yang sah-sah saja dilakukan. Yang di lain pihak, mungkin banyak yang menyayangkan, banyak yang menyalahkan, banyak yang bergunjing; lho berlarut-larut ya, mbok ya diselesaikan secara kekeluargaan.

Kita sebagai penonton kadang lebih sok tahu menilai konflik yang seperti benang kusut ini. Senyatanya, kita tidak pernah tahu secara detail permasalahan melalui mendengar klarifikasi dari yang berselisih. Dan tidak mau juga menghargai pilihan cara menyelesaikan konflik dengan diam. Yang ada malah ikut ruwet dalam pertikaian dan ingin jadi pahlawan kesiangan yang mau bantu mendamaikan.

Kembali dengan cara sang nabi dalam mendiamkan Kaab bin malik. Ingat bukan hanya didiamkan, ditambah juga dengan diboikot oleh kaum muslimin ketika itu. Diriwayatkan sampai Abu Qatadah tidak menjawab salam Kaab bin Malik. Bisa antum bayangkan bagaimana galau dan ruwetnya Kaab bin Malik dalam kondisi yang seperti demikian?

Pada akhirnya saat Kaab bin Malik mengakui kesalahannya, bertaubat dan ikhlas menerima hukuman apapun. Maka sang nabi pun memaafkannya. Bukan malah playing victim, bukan membentuk perseteruan baru dengan mengadu domba antara satu dengan yang lain, dan kalau begini yang ingin dilakukan hanyalah membakar konflik agar meluas dan tak kunjung selesai.

Diam adalah sikap, ketika jalur perbaikan konflik dengan bertemu tidak mengubah dirinya menjadi sadar akan kesalahan dirinya, malah makin sombong, keras kepala dan merasa benar sendiri. Diam adalah cara untuk tidak mempermalukannya, yakni menjaga harga diri orang lain di depan umum. Diam adalah aksi, bukan reaksi, sebuah tindakan baru untuk menunjukkan ketegasan yang mudah-mudahan ia agar belajar dari kesalahannya. Kalaupun tidak pernah belajar dari kesalahannya, biarkan dia larut dalam kesalahan yang ia anggap kebenaran mutlak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *