Memberikan Nasihat itu Baik, Tetapi Jangan Memaksa

Memberikan Nasihat itu Baik, Tetapi Jangan Memaksa

Untuk menyampaikan kebaikan walaupun satu ayat, memang hal yang baik. Sebagaimana nasihat yang mengajarkan manusia agar mau saling mengingatkan kebaikan dan kesabaran.

Kita semua tidak lepas dari salah dan dosa, tidak ada yang sempurna. Maka dalam perjalanan kehidupan ini, ada pentingnya mendengar nasihat dari orang lain, yang biasanya lebih jeli dalam melihat dan menilai titik buta kesalahan kita dimana.

Dengan mengetahui kesalahan kita, berarti kita sudah punya daftar kesalahan yang harus diperbaiki. Kita mulai mencari cara untuk memperbaikinya, walau memang tidak mudah, setidaknya proses intropeksi diri melalui mendengar nasihat dari orang lain dapat kita terima dengan baik.

Yang menjadikan nasihat nampak menyebalkan, seringkali menggunakan pemaksaan dalam menyampaikannya. Oke, maksudnya untuk kebaikan namun tidak ada yang bisa benar-benar menerima kebaikan yang dipaksakan. Kalaupun kebaikan itu sampai, ia dilakukan dengan terpaksa dan tidak baik untuk kesadaran dirinya.

Mereka yang melabelkan diri sebagai juru dakwah, suka memberikan nasihat agama kadang memaksa. Saya katakan memaksa karena orang lain dianggap salah semua jika tidak sesuai dengan keyakinan yang ia pahami. Mereka menginginkan keseragaman di dalam keberagaman yang ada di Indonesia. Kita sama-sama tahu bahwa kita satu bangsa, satu tanah air namun bukan satu agama.

Jika memakai hijab adalah wajib bagi wanita yang beragama Islam, mengapa memaksa yang tidak mau memakai hijab? Agama adalah ranah privasi, yang keputusannya diletakkan kepada individu masing-masing. Tidak perlu kita mengurusi keputusan orang lain yang tidak mau berhijab. Memberikan nasihat sebagai cara mengingatkan baik, namun memaksa dan punya tendensi buruk kepada wanita yang tidak menggunakan hijab, sebaiknya dihilangkan.

Nasihat memiliki tujuan yang baik, namun jika menggunakan cara yang salah dan tidak tepat, maka ada baiknya dilakukan evaluasi mengenai cara. Sebab tindakan yang baik, akan tetapi caranya memaksa dan ini tidak tepat, hasilnya malah merusak nasihat yang diberikan.

Kalau memang nasihat itu hadir berasal dari kepedulian, kasih sayang, dan kebaikan orang lain. Ada banyak cara untuk disampaikan bukan dengan memaksa, bukan dengan marah-marah dan teriak-teriak, menyuguhkan neraka dan menyematkan nama sebagai ahli bid’ah. Penyampaian nasihat dengan cara yang lentur dan sejuk tentu lebih baik.

Nasihat tidak dibutuhkan kepada mereka yang tidak memintanya, bebaskan mereka kepada keputusan dirinya sendiri. Tiap orang punya cara memperbaiki dirinya masing-masing tanpa perlu kita beri nasihat.

Pada fitrahnya tiap orang itu baik, dan dengan begitu jalan dan waktu yang untuk sampai kepada kebaikan punya ritmenya sendiri-sendiri. Bukan nasihat kita yang mengubah orang lain, namun memang sudah waktunya ia memilih untuk memutuskan kebaikan bagi dirinya.

Toh yang kita anggap buruk untuk orang lain, di sisi lain baik bagi dirinya, begitupun sebaliknya. Baik dan buruk itu sangat subyektif sekali, tergantung pikiran masing-masing orang. Kita hormati keputusannya, tanpa memaksakan harus sama, sependapat dan seragam dengan hal yang kita inginkan.

Membersamai, mungkin hal ini yang sulit kita lakukan. Membebaskan dengan pilihannya, menemani kesepian dan kebingungannya, mengisi kekosongan di ruang hatinya. Ya, membersamai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *