Menjadi Guru Untuk Anak

Menjadi Guru Untuk Anak

Menjadi Guru Untuk Anak Dengan Teladan Bukan Nasihat

Orang tua memang sebagai guru bagi anaknya di rumah. Selain itu anak pun adalah guru bagi orang tuanya. Hubungan mutualisme ini terjadi, orang tua dan anak sama sama memberikan feedback sebagai guru.

Justru anak yang lebih sering memberikan banyak ujian kesabaran bagi orang tua. Orang tua terkadang lebih mudah marah dan kehilangan sabarnya, ketika anak mulai tantrum dan tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya.

Saya banyak belajar dari anak pertama, Nubhu. Tiap kali saya datang di rumah, sambutan pelukan dan teriakan Nubhu yang membuat saya terharu, walau ada tambahan pukulan kecil dan mengajak bermain dengan memainkan akting seperti perkelahian Ultraman dan monster. Saya menyerang dan Nubhu dalam posisi menyerah dipeluk, dicium, tertawa kegelian mendapat serangan dikelitiki perutnya.

Tanpa harus saya ajarkan, anak ternyata lebih cepat belajar mandiri, tentang bagaimana menyambut papahnya yang baru pulang sehabis seharian bekerja sebagai kuli penjaga gudang. Terkadang yang membuat sedih, semua kemarahan orang tuanya, ia balas dengan keceriaan, mengajak bermain dan tertawa.

Benar, anak tidak butuh nasihat terlalu banyak. Tidak perlu jauh-jauh menceritakan akhlak seorang nabi yang mulia. Baginya, ia butuh sosok papah dan mamah yang bisa menjadi teladan. Mungkin itu lebih dari cukup sebagai kisah nyata yang hadir dalam hidupnya. Anak adalah guru nyata yang hadir dalam tubuh kecil. Kehadirannya mengajarkan banyak hal yang kadang orang tua tidak menyadarinya. Menyediakan waktu untuk bermain bersama, menyimpan handphone, menggunakan tubuh sebagai wahana bermain anak-anak, dan memancarkan wajah ceria untuk tertawa bersama.

Anak-anak memang kadangkala butuh nasihat, namun teladan yang orang tua contohkan lebih nyata dan terasa untuk dirinya. Orang tua adalah sahabat bagi anak, orang tua adalah guru pertama bagi anak. Dan anak pun dapat menjadi guru yang orang tua bisa banyak belajar lebih baik lagi dalam mengurus anaknya.

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Markus 10: 14)

Selamat hari guru nasional.
Terimakasih guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *